Pertanian merupakan salah satu sector andalan Indonesia karena Indonesia memang dianugerahi tanah yang subuh dan mudah ditanami dan iklim tropis yang amat menunjang aneka ragam tumbuhan yang tidak dapat tumbuh di tempat lain. Namun sayangnya, pertanian di Indonesia yang dulunya disebuh sebagai Negara agraris ini mengalami kemunduran. Kemunduran tersebut disebabkan oleh berbagai hal, antara lain adalah karena semakin berkurangnya lahan pertanian yang banyak telah diubah menjadi lahan pemukiman, cuaca yang kurang mendukung serta hama yang penyerang.

Salah satu hama yang sering menyerang persawahan adalah tikus. hewan pengerat yang satu ini ternyata bukan saja merusak padi yang ditanam, namun juga dapat menyebabkan berbagai macam penyakit bagi manusia yang bahkan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, para petani mencoba mencari berbagai cara mengusir tikus karena tikus adalah hama yang sulit dihilangkan karena perkembangbiakan tikus amatlah cepat dan tikus dapat dengan mudah beradaptasi dengan keadaan lingkungannya. Oleh karenanya, petani tertantang untuk harus mencari cara efektif yang dapat membunuh banyak tikus sekaligus agar dapat mengoptimalkan hasil sawah mereka yang semakin terbatas lahannya.

Belum lama ini sekelompok petani di daerah Sleman, Yogyakarta mencoba cara penanggulangan hama tikus cara baru, yaitu dengan memanfaatkan burung hantu. Burung hantu merupakan burung pemangsa tikus yang banyak terdapat di lahan-lahan sawah, pertanian jagung, singkong dan salah yang terdapat di Sleman. Namun demikian, sebenarnya pelopor pengguna burung hantu adalah para petani daerah Desa Tlogoweru, Demak, Jawa Tengah. Warga daerah tersubut telah selama dua tahun menangkarkan burung hantu dan memanfaatkannya untuk membasmi hama tikus. Hewan pemangsa tikus ini terbukti handal untuk dapat membunuh antara 5- 8 ekor tikus setiap harinya. Untuk dapat meliputi seluruh lahan mereka tersebut, para petani melepaskan sekitar 400 burung hantu berjenis Tyto Alba setiap malam. Setelah dua tahun ini, daerah yang sering mengalami gagal panen karena tikus tersebut mengalami peningkatan hasil.

Selain dari burung hantu, petani juga dapat melakukan berbagai cara mengusir tikus yang lain untuk menganggulangi hama tikus. Cara-cara tersebut antara lain dengan menanam dan memanen secara serempat dalam selisih waktu yang tidak lebih dari 2 minggu. Ini dimaksudkan untuk menghindari adanya perkembangbiakan tikus secara berkesinambungan. Selanjutnya, petani juga harus melakukan pembersihan secara berkala pada daerah pertaniannya untuk mengurangi area tempat berkembangbiaknya tikus. Selain itu, petani juga diharapkan untuk dapat melakukan fumigasi, memasang perangkap tikus TBS (Trap Barrier System) dan LTBS (Linier Trap Barrier System). TBS merupakan perangkap yang diterapkan di daerah rawan hama tikus. TBS memerlukan area sebesar 20 x 20 m untuk dapat mengamankan arera tanam sebesar 15 hektar. Sedangkan LTBS merupakan pemasangan pagar plastic/terpal yang tingginya 60 cm. Alat ini dimaksudnya untuk membatasi habitat tikus. Semua kegiatan ini diharapkan dilakukan secara bersama-sama supaya dapat memaksimalkan hasil dari cara mengusir tikus.

 

selengkapnya Klik disini:

 

 

EXTRO INDONESIA

ALAT PENGUSIR TIKUS BERKUALITAS HARGA PAS

Dapatkan Promo menarik Bulan Ini !!!!

EMAIL : sales@extroindonesia.com / sales1@extroindonesia.com

Fb : http://www.facebook.com/tissorextro.id

Twitter : http://www.twitter.com/extro_id

0219 741 8000 / 0857 7477 8000

0838 7447 8000